Senin, 25 November 2013

AC Milan Kian Terpuruk: Balada Rossoneri, Allegri, Galliani

AC Milan

Bolaonline-id.blogspot.com - Serie A: Balada AC Milan, Allegri, Galliani
Sudah bukan menjadi rahasia bila saat ini AC. Milan menjadi salah satu klub besar yang mengalami dekandensi dari segi performa musim ini. Bertolak dari posisi klasemen, sudah menggambar bahwa Milan menghadapi kendala yang tidak mudah. Namun, tetap saja harusa ada faktor yang bertanggung jawab atas keadaan Milan saat ini. Paling sederhana jelas adalah pengaruh Allegri yang tidak bisa memadukan skuad Milan dengan tepat. Galliani selaku pengelola operasional Milan jelas mengambil porsi yang lebih besar, melihat dirinya sebagai guru transfer Milan yang handal.


Galliani adalah guru transfer handal? Benar, hal ini tidak terbantahkan lagi. The Old Fox memang sangat ahli dalam urusan bajak membajak pemain. Namun tiada salahnya bila sedikit objektif mengenai efektivitas Galliani “di lapangan” pada saat ini. Yang mendatangkan Kaka, Pato dan thiago Silva adalah peran besar Galliani? Belum tentu bisa dikatakan demikikan. Kedatangan ketiganya tentunya berkat kejelian Leonardo sebagai scout Milan pada saat itu yang bekerja sama dengan Braida sebagai direktur Olahraga. Ketiganya adalah talenta “mentah” saat dibeli Milan yang berhasil diubah menjadi pemain hebat.

Bergerak lebih lama lagi, kehadiran Rui Costa, Andriy Shevchenko, Filippo Inzaghi dan Alessandro Nesta, juga tidak bisa dikatakan sebagai andil Galliani dalam porsi besar. Melihat besaran nilai transfer dan nama besar mereka sebelum berkostum Milan, rasanya kemampuan spik-spik dewa milik Galliani belum terlihat. Ironisnya, semejak Sheva dijual, lihat saja transfer Milan di tangan Galliani. Mulai dari mendatangkan Gilardino, Ricardo Oliviera, Klas Jan Huntelaar, dimana semuanya tidak bisa dikatakan sukses di Milan. 

Galliani mulai dikenal setelah campur tangannya mendatangkan Bobo Vieri dan Ronaldo botak ke Milan dengan free. Belum tuntas sampai disitu, Galliani juga berhasil mendatangkan Ronaldinho dan Beckham. Meskipun semua nama beken diatas didatangkan dengan gratis ataupun berharga murah, mereka tetaplah pemain yang sudah melewati masa emasnya. Kehebatan Galliani juga mendatangkan Ibra dan Robinho dengan harga “sadis” menjadi puncak pembuktian kehebatan Galliani. Mexes dan Montolivo yang datang gratis, Noce yang dibeli tak sampai sejuta euro, Nigel de Jong dan Balotelli yang cukup “murah”, hingga kaka yang berhasil dipulangkan dengan “gratis” menjadi bukti kehebatan Galliani. Namun, kembali kepada pertanyaan, apakah semua nama yang dibajak Galliani ini worthed bermain bersama Milan? Semejak transfer Pazzini, saya semakin yakin pada sebuah slogan “Harga memang tidak pernah berbohong.” If you know what I mean

 AC Milan

Menurut pandangan saya, tindakan Barbara yang menginginkan perubahan di tubuh Milan adalah sebuah langkah yang cukup tepat. Bagaimanapun juga, semua tim akan menghadapi gambling. Menggusur Allegri atau Galliani dari tubuh Milan adalah sebuah perjudian. Namun sama halnya, mempertahankan mereka juga tetap sebuah perjudian. Tidak ada sebuah kepastian yang bisa dijadikan pedoman, dimana misalnya bila Alle dan Galliani bertahan Milan akan lebih baik atau dengan pelatih baru dan orang baru sudah pasti Milan akan lebih buruk. Namun tolok ukur performa bisa menjadi pedoman dan alasan seorang Barbara mengangkat wacana ini. Galliani jelas bertanggung jawab atas kegagalan Milan mengelola masalah keuangan. Dari sisi pembelian, Galliani yang ingin berhemat semejak menjual Sheva dan Kaka, membuat sebuah blunder dengan mendatangkan Ibra dan Robinho yang membengkakkan beban gaji Milan. Pembelian pemain medioker gratis bergaji selangit seperti Muntari dan Taiwo jelas sebuah blunder. Belum lagi perekrutan pemain yang tidak jelas seperti Zaccardo, Mesbah, Urby, adalah langkah yang tidak bisa dikatakan bagus. Dari sisi penjualan pemain, Galliani melakukan bisnis yang tidak bisa dikatakan Baik. Milan menjual Pato dengan harga yang murah (terlepas ketidakbetahan pemain pasti ada faktor dari pelatih dan manajemen Milan sendiri) padahal masih muda, bukan bermaksud mengungkit, melepas Pirlo di usia 31 tahun dengan alasan Beban gaji dan usianya. 

Coba kita lihat siapa yang direkrut Milan musim ini? Nama Silvester dan Matri jelas sudah mendekati 30 tahun dan tetap menjadi perekrutan Milan. So, semuanya rencana youth project, pemberian kontrak kepada pemain “ISO” hanya 1 tahun juga dilanggar saat Bonera dapat ekstensi lebih dari setahun. Galliani menjilat ludahnya sendiri. Ini baru dari sisi transfer. Dari segi bisnis, Milan gagal mencoba memanfaatkan pencitraan mereka sebagai klub tersukses di dunia sebagai alat mengeruk keuntungan. Saya pernah baca Milan mulai meniru Bayern, MU dan Madrid soal pencitraan setelah Barbara masuk ke dalam jajaran direksi. Selama ini bukankah Galliani hanya mengeluh soal pemkot yang ga mau jual San Siro? Galliani, sudah terlalu “kuno” untuk mengurusi bisnis Milan. Menjual tiga kali pemain bintangnya untuk menutupi utang adalah sebuah blunder besar bagi seorang “CEO”. Itu artinya selama ini Milan tidak berbisnis dengan baik. Just it. Blame the owner, Berlusconi? It’s a silly stuff.

Allegri. Kalo mau jujur, scudetto Milan di musim pertama Allegri tidak lepas dari : Kedatangan Ibra dan Binho, Kepergian Jose Mourinho dari Inter yang buat Inter melemah, Juventus yang masih mencari “jati dirinya”, Napoli yang masih mematangkan materinya, Roma yang masih hijau untuk bicara scudetto. Tidak berhenti sampai disini. Allegri juga dapat tambahan Cassano dan Mark Van Bommel yang semakin membuat Milan sulit ditandingi di Serie-A. Jadi jikalau memang dengan kondisi ini Allegri sempat tidak membawa Milan juara, itu sudah keterlaluan. Pada musim pertama, Milan sudah terkena badai cedera walau tidak besar efeknya karena skuad yang gemuk. Pada musim kedua, Milan masih mempertahankan sebagian besar porosnya. Namun badai cedera “berjamaah” membuat Milan gagal bersaing di akhir musim. Scudetto lepas. Pada musim ketiga, terjadi perubahan besar di tubuh Milan dengan hilangnya para pemain senior dan bintang. Namun pada paruh kedua, Milan bisa bangkit. Musim keempat, dengan skuad yang musim ketiga paruh kedua ditambah beberapa nama baru tentunya Milan bisa berbicara banyak. Kenyataan yang terjadi badai cedera menghampiri Milan. 

Selama empat musim bersama Milan, Allegri selalu ketiban cedera. Bisa jadi Allegri menerapkan latihan yang ketat dan menguras stamina pemain.cukup masuk akal mengingat Allegri lebih mengutamakan fisik ketimbang intiligensi dalam pola permainannya alias yang sering disebut pake kuli berdasi di lini tengah. Menurut ane, Allegri sudah tidak cocok di Milan. Meskipun mendatangkan pelatih baru gambling, namun kedatangan muka baru akan membuat suasana baru di Milan dan itu penting untuk memotivasi para pemain terutama para pemain yang kehilangan kesempatan di era Allegri. Mungkin hal inilah yang dilihat oleh Barbara. Bagaimanapun juga, hasil dilapangan adalah tanggung jawab pelatih bukan Galliani atau pemilik klub. So, pilihan mengganti Allegri adalah pilihan paling rasional dari kemungkinan perombakan yang diusung oleh Barbara.

Get Well Soon Milan

Daniel Oslanto
Kompasiana.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar