Bolaonline-id.blogspot.com - Serie A: Balada AC Milan, Allegri, Galliani
Sudah bukan menjadi rahasia bila saat ini AC. Milan menjadi salah
satu klub besar yang mengalami dekandensi dari segi performa musim ini.
Bertolak dari posisi klasemen, sudah menggambar bahwa Milan menghadapi
kendala yang tidak mudah. Namun, tetap saja harusa ada faktor yang
bertanggung jawab atas keadaan Milan saat ini. Paling sederhana jelas
adalah pengaruh Allegri yang tidak bisa memadukan skuad Milan dengan
tepat. Galliani selaku pengelola operasional Milan jelas mengambil porsi
yang lebih besar, melihat dirinya sebagai guru transfer Milan yang
handal.
Galliani adalah guru transfer handal? Benar, hal ini tidak terbantahkan
lagi. The Old Fox memang sangat ahli dalam urusan bajak membajak pemain.
Namun tiada salahnya bila sedikit objektif mengenai efektivitas
Galliani “di lapangan” pada saat ini. Yang mendatangkan Kaka, Pato dan
thiago Silva adalah peran besar Galliani? Belum tentu bisa dikatakan
demikikan. Kedatangan ketiganya tentunya berkat kejelian Leonardo
sebagai scout Milan pada saat itu yang bekerja sama dengan Braida
sebagai direktur Olahraga. Ketiganya adalah talenta “mentah” saat dibeli
Milan yang berhasil diubah menjadi pemain hebat.
Bergerak lebih lama lagi, kehadiran Rui Costa, Andriy Shevchenko,
Filippo Inzaghi dan Alessandro Nesta, juga tidak bisa dikatakan sebagai
andil Galliani dalam porsi besar. Melihat besaran nilai transfer dan
nama besar mereka sebelum berkostum Milan, rasanya kemampuan spik-spik dewa milik
Galliani belum terlihat. Ironisnya, semejak Sheva dijual, lihat saja
transfer Milan di tangan Galliani. Mulai dari mendatangkan Gilardino,
Ricardo Oliviera, Klas Jan Huntelaar, dimana semuanya tidak bisa
dikatakan sukses di Milan.
Galliani mulai dikenal setelah campur
tangannya mendatangkan Bobo Vieri dan Ronaldo botak ke Milan dengan
free. Belum tuntas sampai disitu, Galliani juga berhasil mendatangkan
Ronaldinho dan Beckham. Meskipun semua nama beken diatas didatangkan
dengan gratis ataupun berharga murah, mereka tetaplah pemain yang sudah
melewati masa emasnya. Kehebatan Galliani juga mendatangkan Ibra dan
Robinho dengan harga “sadis” menjadi puncak pembuktian kehebatan
Galliani. Mexes dan Montolivo yang datang gratis, Noce yang dibeli tak
sampai sejuta euro, Nigel de Jong dan Balotelli yang cukup “murah”,
hingga kaka yang berhasil dipulangkan dengan “gratis” menjadi bukti
kehebatan Galliani. Namun, kembali kepada pertanyaan, apakah semua nama
yang dibajak Galliani ini worthed bermain bersama Milan? Semejak transfer Pazzini, saya semakin yakin pada sebuah slogan “Harga memang tidak pernah berbohong.” If you know what I mean
Menurut pandangan saya, tindakan Barbara yang menginginkan perubahan di
tubuh Milan adalah sebuah langkah yang cukup tepat. Bagaimanapun juga,
semua tim akan menghadapi gambling. Menggusur Allegri atau
Galliani dari tubuh Milan adalah sebuah perjudian. Namun sama halnya,
mempertahankan mereka juga tetap sebuah perjudian. Tidak ada sebuah
kepastian yang bisa dijadikan pedoman, dimana misalnya bila Alle dan
Galliani bertahan Milan akan lebih baik atau dengan pelatih baru dan
orang baru sudah pasti Milan akan lebih buruk. Namun tolok ukur performa
bisa menjadi pedoman dan alasan seorang Barbara mengangkat wacana ini.
Galliani jelas bertanggung jawab atas kegagalan Milan mengelola masalah
keuangan. Dari sisi pembelian, Galliani yang ingin berhemat semejak
menjual Sheva dan Kaka, membuat sebuah blunder dengan mendatangkan Ibra
dan Robinho yang membengkakkan beban gaji Milan. Pembelian pemain
medioker gratis bergaji selangit seperti Muntari dan Taiwo jelas sebuah
blunder. Belum lagi perekrutan pemain yang tidak jelas seperti Zaccardo,
Mesbah, Urby, adalah langkah yang tidak bisa dikatakan bagus. Dari sisi
penjualan pemain, Galliani melakukan bisnis yang tidak bisa dikatakan
Baik. Milan menjual Pato dengan harga yang murah (terlepas
ketidakbetahan pemain pasti ada faktor dari pelatih dan manajemen Milan
sendiri) padahal masih muda, bukan bermaksud mengungkit, melepas Pirlo
di usia 31 tahun dengan alasan Beban gaji dan usianya.
Coba kita lihat
siapa yang direkrut Milan musim ini? Nama Silvester dan Matri jelas
sudah mendekati 30 tahun dan tetap menjadi perekrutan Milan. So,
semuanya rencana youth project, pemberian kontrak kepada pemain “ISO”
hanya 1 tahun juga dilanggar saat Bonera dapat ekstensi lebih dari
setahun. Galliani menjilat ludahnya sendiri. Ini baru dari sisi
transfer. Dari segi bisnis, Milan gagal mencoba memanfaatkan pencitraan
mereka sebagai klub tersukses di dunia sebagai alat mengeruk keuntungan.
Saya pernah baca Milan mulai meniru Bayern, MU dan Madrid soal
pencitraan setelah Barbara masuk ke dalam jajaran direksi. Selama ini
bukankah Galliani hanya mengeluh soal pemkot yang ga mau jual San Siro?
Galliani, sudah terlalu “kuno” untuk mengurusi bisnis Milan. Menjual
tiga kali pemain bintangnya untuk menutupi utang adalah sebuah blunder
besar bagi seorang “CEO”. Itu artinya selama ini Milan tidak berbisnis
dengan baik. Just it. Blame the owner, Berlusconi? It’s a silly stuff.
Allegri. Kalo mau jujur, scudetto Milan di musim pertama
Allegri tidak lepas dari : Kedatangan Ibra dan Binho, Kepergian Jose
Mourinho dari Inter yang buat Inter melemah, Juventus yang masih mencari
“jati dirinya”, Napoli yang masih mematangkan materinya, Roma yang
masih hijau untuk bicara scudetto. Tidak berhenti sampai disini. Allegri
juga dapat tambahan Cassano dan Mark Van Bommel yang semakin membuat
Milan sulit ditandingi di Serie-A. Jadi jikalau memang dengan kondisi
ini Allegri sempat tidak membawa Milan juara, itu sudah keterlaluan.
Pada musim pertama, Milan sudah terkena badai cedera walau tidak besar
efeknya karena skuad yang gemuk. Pada musim kedua, Milan masih
mempertahankan sebagian besar porosnya. Namun badai cedera “berjamaah”
membuat Milan gagal bersaing di akhir musim. Scudetto lepas. Pada musim
ketiga, terjadi perubahan besar di tubuh Milan dengan hilangnya para
pemain senior dan bintang. Namun pada paruh kedua, Milan bisa bangkit.
Musim keempat, dengan skuad yang musim ketiga paruh kedua ditambah
beberapa nama baru tentunya Milan bisa berbicara banyak. Kenyataan yang
terjadi badai cedera menghampiri Milan.
Selama empat musim bersama
Milan, Allegri selalu ketiban cedera. Bisa jadi Allegri menerapkan
latihan yang ketat dan menguras stamina pemain.cukup masuk akal
mengingat Allegri lebih mengutamakan fisik ketimbang intiligensi dalam
pola permainannya alias yang sering disebut pake kuli berdasi di lini
tengah. Menurut ane, Allegri sudah tidak cocok di Milan. Meskipun
mendatangkan pelatih baru gambling, namun kedatangan muka baru akan
membuat suasana baru di Milan dan itu penting untuk memotivasi para
pemain terutama para pemain yang kehilangan kesempatan di era Allegri.
Mungkin hal inilah yang dilihat oleh Barbara. Bagaimanapun juga, hasil
dilapangan adalah tanggung jawab pelatih bukan Galliani atau pemilik
klub. So, pilihan mengganti Allegri adalah pilihan paling rasional dari kemungkinan perombakan yang diusung oleh Barbara.
Get Well Soon Milan
Daniel Oslanto
Kompasiana.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar